Hari: 5 Desember 2018

Teknologi

Mengenal Teknologi Pendeteksi Korban Gempa

Mengenal Teknologi Pendeteksi Korban Gempa

Badan Antariksa Amerika Serikan (NASA) memiliki alat canggih yang dapat digunakan untuk mendeteksi dan menemukan korban bencana alami, termasuk korban gempa yang tertimbun oleh reruntuhan.

Namun sayangnya alat ini hanya bisa mendeteksi atau menemukan korban yang masih hidup saja, sedangkan yang sudah meninggal tidak akan bisa terdeteksi.

Alat ini diĀ  beri nama Finder oleh NASA, yang merupakan singkatan dari “Finding Individuals For Disaster and Emergency Response”.

Mengenal Teknologi Pendeteksi Korban Gempa yang Terjebak Reruntuhan Milik NASA

Alat ini merupakan sejenis radar yang ukuran dan bentuknya mirip koper. Finder dapat mendeteksi detak jantung yang sehingga korban yang berada dibawah reruntuhan dapat diselamatkan.

Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA, Pasadena, California, serta Direktorat Sains dan Teknologi Departemen Keamanan Dalam Negeri di Washington merupakan pengembang teknologi ini.

James Lux, Task Manager untuk proyek Finder di JPL menjelaskan bahwa alat ini dilengkapi dengan kamera dan perangkat pendeteksi suara. Finder hanya memiliki bobot tidak lebih dari 9 Kg sehingga mudah dibawa oleh mobil ataupun pesawat.

Tidak hanya detak jantung, finder juga dapat mendeteksi gerakan kecil lain seperti nafas. Finder akan mengirimkan sinya refleksi dengan tenaga rendah kedalam puing reruntuhan bangunan, setelah itu sinyal akan mendeteksi setiap gerakan didalamnya.

Dalam pengujian, finder dapat mendeteksi detak jantung hingga kedalaman 6-9 meter dan bisa menembuh beton padat.

Pada saat operasi, sang operator finder akan menggunakan laptop untuk menjalankan prangkat finder. Operator akan menentukan kisaran minimum dan maksimum finder untuk mendeteksi detak jantung dan gerakan lain disekitarnya.

Hebatnya, perangkat lunak finder ini dapat membedakan detak jantung manusia dan hewan bahkan perangkat mekanis, sehingga pertolongan dapat lebih tepat sasaran.

NASA sudah memberikan memberikan lisensi ke banyak perusahaan swasta yang ingin menggunakan alat ini sejak tahun 2015 lalu. Alat ini sudah digunakan untuk membantu korban bencana di beberapa tempat termasuk gempa Nepal, bada Maria di Puerto Rico, dan juga gempa di Meksiko pada tahun 2017 lalu.

Dalam setiap bencana alam, seperti gempa bumi, tsunami dan longsor, waktu merupakan hal yang paling penting. Korban harus ditemukan secepat mungkin agar bisa tertolong dan diselamatkan. Oleh sebab itu, alat ini cukup efektif untuk membantu petugas memprecepat proses evakuasi korban.

Indonesia baru saja mengalami bencan besar di Sulawesi Tengah, yaitu gempa bumi dan juga tsunami. Gempa bumi yang terjadi pada hari Jumat, 28 September 2018 memiliki kekuatan 7.4- s/d 7.7 magnitudo telah mengguncang dan memporak-porandakan daerah Donggala, palu dan sekitarnya.

Akibat bencana ini, hampir seluruh infastruktur dikawasan tersebut luluh lantak ditambah dengan tsunami yang menyampuh seluruh kawasan bibir pantai kota Palu dan Mamuju.

Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat korban gempa sampai saat ini mencapai 1.234 korban meninggal dunia, 799 orang dirawat di rumah sakit, 99 orang dinyatakan hilang, dan 152 orang masih tertimbun serta 65.733 rumah dinyatakan rusak. Angka tersebut tentu akan terus bertambah selama proses pencarian dan evakuasi korban terus dilakukan.

Mungkin dengan alat Finder milik NASA para petugas akan dapat lebih mudah menemukan korban. Kita doakan semoga NASA bisa memberikan lisesi sehingga bisa digunakan oleh petugas kita. Kita doakan juga yang terbaik untuk saudara-saudara kita di Sulawesi Tengah.

Read More
Konsultasikan Disini!!